Sekolah Minggu dan Pernak-Perniknya

Penginjilan Anak, Penginjilan yang Terabaikan

Posted on: Desember 7, 2007

Jika ditanya salah satu hal yang membuat saya begitu senang di tahun 2007 ini, salah satunya adalah KKR Anak Sekolah Minggu yang diselenggarakan di gereja saya bulan April yang lalu.

Acara itu bermula dari kerinduan saya melihat anak-anak memiliki pengalaman rohani dalam sebuah kebaktian, dimana saat itu dapat menjadi waktu bagi anak untuk berpikir mengenai keselamatannya. Jika mereka saat itu juga dapat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, itu akan membawa sukacita yang tak terhingga bagi saya.

 

Yang menarik adalah ketika saya mengumpulkan beberapa mahasiswa teologia yang membantu pelayanan di SM gereja saya. Terlebih dahulu saya bertanya kepada mereka, “Di mana kalian melakukan penginjilan atau siapa yang akan kalian injili?” Jawabannya bervariasi, ada yang mengatakan rindu diutus ke pedalaman mencari orang-orang yang belum kenal injil dan membawa mereka mengenal Kristus. Ada pula yang mengatakan akan menginjili mereka di mana saja Tuhan mengutus mereka.

 

Kemudian saya bertanya lagi, “Orang-orang seperti apa yang kalian bayangkan akan kalian injili?” Bervariasi lagi jawabannya, seperti orang-orang yang terlibat narkoba, orang yang sama sekali tidak pernah ke gereja, orang-orang yang belum kenal Kristus. Dan ketika saya tanyakan, “Adakah anak-anak masuk dalam bayangan kalian?”, hampir semua terdiam, ada yang spontan menggeleng dengan kencangnya, dan pada akhirnya semua mengaku sama sekali tidak membayangkan akan menginjilii anak-anak.

 

Ya, masih banyak yang beranggapan bahwa Injil baru dapat diberitakan paling tidak untuk usia remaja keatas. Penginjilan untuk anak belum terlalu dipikirkan. Padahal, justru penginjilan akan sangat efektif jika dilakukan kepada anak sejak usia dini. Anak-anak akan sangat mudah menerima Injil, karena masa anak-anak adalah masa dimana mereka paling mudah menyerap informasi dan mengingatnya dengan kuat. Sekolah Minggu dapat menjadi awal yang tepat bagi penginjilan tersebut. Itulah sebabnya seorang guru sekolah minggu harus sadar benar, bahwa dia tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi penginjil bagi anak-anak layannya.

 

KKR SM bulan April kemarin menyisakan keharuan di dalam hati saya sampai saat ini. Saya masih ingat tangan-tangan mungil yang teracung saat pembicara menantang mereka menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya. Di meja saya saat ini pun masih ada kartu-kartu komitmen yang dulu mereka isi sebagai tanda mereka percaya kepada Yesus.

 

Maukah Anda menginjili anak-anak yang telah Tuhan percayakan untuk Anda layani?

Mari, bawalah anak-anak itu kepada Tuhan. Jangan kita menjadi penghalang bagi mereka untuk datang kepada Tuhan, dengan tidak menginjili mereka.

 

2 Tanggapan to "Penginjilan Anak, Penginjilan yang Terabaikan"

jadikanlah anak sebagai terang dan garam Dunia……

jadikanlah anak-anak ini sebagai penerus pelayanan.dan biarkanlah anak-anak yang bandel akan menjadi yaqng terbaik karena mereka akan mendengar sebuah firman yang akan disampaikan oleh salah satu guru sekolah minggu, dan pembacaan yang mereka baca.jadikanlah anak-anak ini sebagai penerus bangsa indonesia. buat adi-adi raji-rajinlah membaca firman Tuhan dan raajin-rajinlah berdoa,dengar-dengaran kepada orang tua terlebih kepada Tuhan.
GBU……………
TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: