Sekolah Minggu dan Pernak-Perniknya

Kebaktian Padang: Pelayanan di Luar Tembok

Posted on: November 8, 2007

Kebaktian padang telah menjadi satu program kegiatan yang wajib ada dalam kegiatan sekolah Minggu. Paling tidak, mungkin hampir semua sekolah Minggu yang ada di Indonesia ini sudah pernah mengadakan kebaktian padang. Mengapa acara ini selalu ada, bahkan jika memungkinkan harus selalu ada dalam satu periode program sekolah Minggu?

Umumnya, anak-anak menyukai kegiatan di luar ruangan. Kegiatan sekolah Minggu yang selalu di dalam kelas suatu waktu akan menimbulkan kejenuhan, sehingga sesekali ibadah di luar perlu diadakan. Tetapi sebenarnya, bukan alasan-alasan tersebut saja yang menjadikan kebaktian padang harus dilakukan. Satu alasan utama adalah karena Yesus juga melakukan kebaktian/pengajaran di alam terbuka sebagai bagian pelayanan-Nya selama di dunia ini, pelayanan-Nya di luar tembok Bait Allah.

KEBAKTIAN PADANG YESUS

Dalam Alkitab kita melihat bagaimana di sepanjang perjalanan pelayanan-Nya Yesus mengajar dan berkhotbah tidak hanya di ruangan tertutup, tapi seringkali juga di udara terbuka. Di sini ingin dinyatakan bahwa suasana yang khidmat dan dekat dengan Allah tidak harus di sebuah ruangan tertutup, yang sepi, tenang, dengan aturan- aturan tertentu. Justru di udara terbuka dengan suasana yang lebih santai itulah Yesus bisa dekat dengan mereka yang hadir dalam “kebaktian padang” yang diselenggarakan-Nya. Tidak ada aturan yang membatasi sehingga dengan perasaan tenang dan tanpa beban orang banyak yang mendengarkan khotbah-Nya bisa lebih menikmatinya.

Di ruangan terbuka yang tanpa batasan itu siapa saja boleh dekat dengan Dia. Kisah anak-anak yang ingin mendekati-Nya menunjukkan bagaimana Yesus menyambut, memeluk, dan memangku mereka. Jika Yesus selalu melayani di bait Allah atau di rumah-rumah, kemungkinan besar anak-anak kecil itu tidak akan pernah merasakan sentuhan kasih-Nya (Matius 19:13-15; Markus 10:13-16). Dengan mengajar di tempat terbuka, mujizat Yesus dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. Jika Dia selalu berada dalam Bait Allah, hanya orang tertentu yang dapat merasakan mujizat-Nya. Hanya sedikit saja yang bisa mendengar kabar baik yang disampaikan-Nya. Dengan mengadakan pelayanan di alam terbuka, Yesus memberikan kesempatan yang tidak terbatas bagi setiap orang untuk mendapat jamahan dan kabar baik dari-Nya. Bahkan saat Dia berjalan pun orang yang hanya menjamah jubah-Nya bisa sembuh (Matius 9:20; Matius 14:36.).

Jika dalam Bait Allah Yesus banyak mengajar dari kitab-kitab, di luar ruangan Yesus banyak mengajar menggunakan perumpamaan dari alam sekitar. Yesus juga bisa mengambil banyak ilustrasi untuk setiap pengajaran atau khotbah yang Ia sampaikan di udara terbuka. Apa saja yang Yesus lihat dalam pelayanan di luar tembok Bait Allah bisa Dia gunakan sebagai perumpamaan. Orang yang mengikuti-Nya pun bisa melihat langsung apa yang Dia maksudkan. Dia memberikan perumpamaan mengenai penabur benih, biji sesawi, ikan-ikan yang dijaring, pokok anggur, kebun anggur, dll. Semua itu bukanlah hal yang sulit untuk dilihat orang yang sedang berada di luar ruangan.

Dari uraian di atas dapat ditarik tiga alasan mengapa Yesus juga melakukan pelayanan/mengajar di udara terbuka.

  1. Tanpa adanya batasan tembok dan aturan-aturan yang mengikat, akan lebih banyak orang yang bisa mendengarkan ajaran-Nya. Siapa saja dapat mendengarkan, termasuk orang Yahudi maupun non Yahudi. Kabar baik itu bisa dinyatakan untuk semua orang.
  2. Mujizat-mujizat kesembuhan pun dapat dialami oleh banyak orang sehingga semakin banyaklah orang yang bisa percaya bahwa sungguh Dialah Mesias. Dia juga bisa menyatakan kepada lebih banyak orang bahwa dosa mereka sudah diampuni. Jika berada di dalam tembok Bait Allah atau suatu gedung, orang banyak yang merindukan jamahan kesembuhan dari Yesus akan sulit mendapatkan kesembuhan mereka. Seperti orang lumpuh yang terpaksa dimasukkan dari atap karena sesaknya tempat Yesus mengajar (Markus 2:2-4).
  3. Di udara terbuka Yesus dapat mengambil banyak ilustrasi yang dengan mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendengar pengajaran-Nya, bahkan untuk para murid-Nya sekalipun. Dengan perumpamaan tersebut, hal-hal seperti Kerajaan Allah, iman, ketaatan, dll. dapat lebih mudah dipahami oleh orang banyak.

KEBAKTIAN PADANG SEKOLAH MINGGU

Mungkin masih ada banyak lagi alasan mengapa Yesus lebih banyak mengajar di luar tembok Bait Allah atau suatu gedung yang tidak tertuang dalam tulisan ini. Tetapi paling tidak kini kita bisa melihat pentingnya pelayanan di luar tembok gereja atau ruang kelas sekolah Minggu yang dapat kita wujudkan dengan kebaktian padang. Dengan melihat kebaktian padang yang sudah terlebih dahulu Yesus teladankan pada kita, mungkin kita bisa menambahkan pula hal yang paling penting dalam kebaktian padang selain alasan yang ada selama ini.

Saat mengadakan kebaktian padang, bukan tidak mungkin orang banyak yang ada di sekitar kita juga dapat melihat bagaimana anak-anak Tuhan memuji, menyembah, dan memuliakan Tuhan. Sukacita anak-anak sekolah Minggu dan para peserta kebaktian padang bisa menular pula kepada mereka yang melihatnya. Apalagi saat firman Tuhan disampaikan, karenanya pemberitaan firman Tuhan tidak boleh direncanakan hanya untuk didengar peserta saja. Bisa saja pemberitaan itu dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi siapa saja yang mendengarnya.

Alam menyimpan banyak kesaksian mengenai kebesaran Tuhan. Dengan mengadakan kebaktian di luar tembok kelas sekolah Minggu, secara langsung kita bisa memperkenalkan karya Allah, mewartakan kebesaran Allah kepada anak-anak. Melalui tanah, rumput, pasir, air, kupu- kupu, dan lain-lain yang hanya bisa disentuh langsung di luar ruang kelas, anak-anak bisa merasa lebih dekat lagi dengan Pencipta semesta ini. Mereka bisa mengungkapkan syukur mereka minimal untuk satu hal yang ada di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana Yesus menggunakan alam sebagai bahan perumpamaan saat Dia mengajar, guru sekolah Minggu pun bisa mengembangkan alat peraga yang ada di ruang terbuka, yang tidak mungkin dilakukan di ruang tertutup.

Kebaktian padang yang dilaksanakan dalam keadaan santai dan penuh keakraban bisa menambah dekat hubungan antara guru dengan anak, maupun guru dengan orang tua. Kesempatan seperti itu bisa kita manfaatkan untuk berbincang-bincang tanpa beban dengan mereka. Kita juga bisa mengevaluasi kehidupan rohani dan sosial mereka.

Satu hal yang harus diperhatikan ialah bahwa kita harus membedakan kegiatan kebaktian padang ini dengan kegiatan rekreasi. Jika kegiatan rekreasi lebih ditujukan untuk bersantai dan refreshing, kebaktian padang lebih banyak diisi dengan kegiatan ibadah. Oleh karena itu, aktivitas yang hendak dilakukan sebaiknya lebih banyak diarahkan pada kegiatan yang ditujukan untuk mengenal Allah dan kebenaran-Nya.

Aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan antara lain puji-pujian, kesaksian dari para peserta, penyampaian firman Tuhan, pemahaman Alkitab, kuis Alkitab, permainan rohani, dan pengakraban. Kebaktian padang sekolah Minggu juga tidak harus diadakan di taman hiburan atau tempat rekreasi. Kebaktian ini bisa dilakukan di lapangan rumput, di halaman rumah seorang murid sekolah Minggu, di pinggir sungai suatu desa, di taman bunga kota, dll.

2 Tanggapan to "Kebaktian Padang: Pelayanan di Luar Tembok"

wacana yang seperti ini sangat dibutuhkan oleh guru-guru sekolah minggu, agar mereka dapat dipacu untuk lebih kreatif mengajar dan menjalin hubungan yang ideal bersama dengan anak didik mereka.

Terimakasih tuk artikelnya ya
Numpang copy ya
Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: