Sekolah Minggu dan Pernak-Perniknya

Memulai Perpustakaan di Sekolah Minggu

Posted on: November 6, 2007

Mengapa anak-anak lebih menyukai buku-buku umum? Berdasar pengamatan, kemungkinan hal itu terjadi karena mereka tidak mengetahui adanya bacaan-bacaan Kristen untuk anak. Anak-anak relatif mudah untuk menemukan buku-buku umum, karena selain dari toko buku umum, anak-anak juga bisa meminjamnya dari perpustakaan sekolah, persewaan buku, perpustakaan umum, atau taman bacaan di kampung. Sedangkan buku-buku Kristen untuk anak kebanyakan hanya bisa didapatkan dari membelinya di toko buku Kristen, yang harganya seringkali tidak murah.

Apakah kita bisa berdiam diri jika bacaan murid-murid SM Anda bukanlah bacaan yang dapat mengembangkan karakter dan iman Kristen mereka? Apakah kita sebagai para pelayan anak tidak tergugah melihat anak-anak “mengkonsumsi” pelajaran-pelajaran rohani hanya sekali seminggu saja? Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk dapat membantu anak-anak itu mendapatkan bacaan-bacaan rohani sesuai dengan kebutuhan mereka dengan mudah?

PERPUSTAKAAN! Ya, perpustakaan adalah salah satu solusi terbaik terhadap masalah di atas.

Sekolah-sekolah umum menyediakan perpustakaan guna memudahkan murid- muridnya untuk mendapatkan buku-buku bacaan yang mereka butuhkan. Itu berarti SM juga dapat menyediakan perpustakaan untuk memudahkan anak-anak SM mendapatkan bacaan Kristen. Jika SM Anda belum memiliki perpustakaan, bagaimana memulainya? Berikut ini langkah-langkah sederhana yang dapat Anda lakukan untuk memulai perpustakaan SM setelah pengurus SM memutuskan untuk mengadakannya. Pastikan keputusan ini sudah mendapatkan persetujuan dari pengurus SM dan majelis gereja. Karena dukungan dari atas bisa memperlancar usaha Anda. Langkah-langkah ini kami khususkan untuk SM dengan jumlah murid di bawah 50 orang.

  1. Membentuk pengurus perpustakaan
    Hal ini penting, karena sekecil apapun perpustakaan, tetap harus ada yang bertanggung jawab, terutama dalam hal administrasi. Pengurus bisa terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan beberapa anggota sukarelawan. Ketua bertanggung jawab penuh terhadap pengadaan dan promosi perpustakaan tersebut, sedangkan sekretaris mencatat inventaris buku, mencatat keluar masuknya buku, dan menyimpan data peminjam. Anggota tugasnya membantu perawatan buku atau membantu sekretaris jika berhalangan. Anggota juga dapat menjadi petugas yang digilir untuk melayani perpustakaan. Jika akan ada keuangan khusus untuk perpustakaan bisa juga dipilih satu bendahara.

  2. Mengumpulkan buku-buku
    Pengurus perpustakaan dan SM bekerja sama mengumpulkan buku-buku perpustakaan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan buku-buku:

    1. Meminta sumbangan buku-buku bacaan rohani milik murid-murid Anda yang sudah lama selesai dibaca. Jangan lupa untuk menulis surat pemberitahuan kepada orangtua murid atau mengumumkan hal ini di kebaktian umum.
    2. Mengajukan proposal kepada majelis untuk membeli kebutuhan buku-buku perpustakaan SM, baik buku bekas maupun baru.
    3. Mengadakan kegiatan menabung untuk perpustakaan. Guru maupun murid boleh mengisi tabungan khusus untuk perpustakaan yang hasilnya dapat Anda belikan buku-buku baru.

    Usahakan untuk mendapat buku-buku yang diminati Anak seperti cerita Alkitab bergambar, dongeng-dongeng (tetapi cari yang kental dengan prinsip-prinsip Kristen), komik-komik cerita Alkitab, majalah untuk anak, buku renungan harian untuk anak, dll.

  3. Hal-hal teknis.
    Yang dimaksud hal-hal teknis disini meliputi:

    1. Membuat prosedur pencatatan dan peminjaman buku.
    2. Membagi tugas-tugas para pengurus dan anggota.
    3. Sarana (lemari, ruangan, kursi, dll.)
    4. Peraturan-peraturan perpustakaan.
  4. Promosi.
    Setelah semua buku tersedia dan tertata rapi, langsung umumkan pembukaan perpustakaan ini kepada murid-murid SM Anda. Sebelumnya berilah pengantar pentingnya membaca buku-buku rohani bagi kehidupan iman mereka. Bisa juga umumkan pembukaan perpustakaan ini dalam ibadah umum, sekalian mengundang jemaat yang ingin menyumbangkan buku-buku.

Langkah selanjutnya setelah perpustakaan SM sudah berjalan dengan baik adalah tahap pengembangan. Menurut DR. Murti Bunanta, S.S.,M.A. dalam seminar yang beliau bawakan tanggal 26 November 1997 langkah- langkah tersebut antara lain:

  1. Menciptakan suasana membaca.
    1. Fisik: Ruang yang bersih, terasa lega di mana buku-buku disusun secara rapi dan teratur serta terawat bersih akan dengan sendirinya mengajar anak untuk mencintai dan menyukai suatu ruangan yang disebut sebagai perpustakaan.
    2. Mental: Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memotivasi anak menyukai membaca dan menjadi pembaca yang baik.
    3. Sarana: Anak harus dikelilingi dengan buku. Oleh karena itu, sebuah perpustakaan harus mempunyai cukup koleksi yang dipajang dengan menarik. Selain buku, dalam tahap pegembangan bisa juga disediakan vcd/film yang isinya berhubungan dengan bacaan.
  2. Menyelenggarakan berbagai program.
    1. Melalui acara yang ada kaitannya dengan menulis/menggambar. (Red.: Misalnya kegiatan menulis kesaksian, menggambar, dll.)
    2. Melalui program buku, yaitu berkaitan dengan bacaan. (Red.: Misalnya kegiatan mendongeng atau meminta anak membaca salah satu buku bacaan di perpustakaan SM lalu menceritakan kembali isi buku itu.)
  3. Mengadakan kerjasama.
    Kerjasama bisa diadakan antara orangtua, guru SM, majelis atau komisi-komisi dalam gereja, juga jemaat, dll.. Tujuannya adalah untuk lebih meningkatkan kualitas perpustakaan dan kuantitas, baik itu buku maupun minat baca anak.
  4. Mencari dana.
    Dana diperlukan untuk kas perpustakaan. Gunanya untuk menjalankan program-program yang dibuat perpustakaan dan untuk menambah koleksi buku. Dana bisa dicari dengan berbagai cara, misalnya bisa dengan iuran anggota, celengan untuk perpustakaan SM, janji iman guru-guru SM, anggaran dari gereja, dll.

Perpustakaan SM dapat menjadi salah satu wadah bagi anak untuk mendapatkan bacaan-bacaan rohani yang bermutu dan bermanfaat terutama bagi pertumbuhan rohani mereka. Bacaan-bacaan yang tidak layak dibaca oleh anak-anak SM banyak beredar dan mudah diperoleh di lingkungan mereka. Oleh karena itu melalui SM dan perpustakaannya, para guru SM dan pelayan anak bisa bergandeng tangan untuk memberikan proteksi yang baik dan benar terhadap minat baca mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: