Sekolah Minggu dan Pernak-Perniknya

Urat leherku seakan-akan hendak putus karena harus berteriak di tengah ruangan yang amat luas dengan anak-anak yang berlari-lari berkejar-kejaran. Satu minggu yang lalu aku masih sibuk melatih anak-anak mungil itu untuk mengambil bagian dalam acara perayaan Natal di gerejaku.

Saat terbersit ide untuk memasukkan anak-anak berbagian dalam pelayanan Natal. Mulai dari singer, penari tamborin, pembaca berita Natal, sampai dengan pembawa lilin Natal, sempat ada rasa ragu. Waktu latihan hanya satu minggu, sedangkan melatih mereka pasti tidak bisa selancar melatih orang-orang dewasa. Namun, kerinduan untuk mengajak mereka melayani melalui perayaan Natal kali ini mengalahkan rasa ragu. Benar saja, seperti yang sudah kusebutkan di atas. Anak-anak pembawa lilin yang berusia 3 – 6 tahun tidak dapat langsung berbaris rapi ketika giliran mereka tiba untuk dilatih. Aku harus ikut berkejaran dulu dengan mereka, menangkap tangan mereka satu per satu, meletakkan mereka di barisannya, dan mengeluarkan suara yang super keras agar panduanku dapat terdengar di tengah iringan musik yang volumenya mengalahkan suaraku. Kadang, saat aku mendapatkan satu anak untuk diletakkan di barisannya, anak yang sudah lebih dahulu ada di barisannya sudah hilang lagi. Huhh … frustrasi rasanya.

Baca entri selengkapnya »

Aku bersyukur kepada Allah yang menempatkan anak-anak di sekelilingku, sehingga aku semakin mengenal betapa uniknya Allah menciptakan mereka. Mereka belajar secara alami dari apa yang mereka lihat, pegang, dengar, makan, atau yang mereka cium. Baca entri selengkapnya »

Dalam Alkitab banyak tuntunan yang Allah berikan kepada setiap orang tua tentang bagaimana mendidik dan melayani seorang anak. Salah satunya adalah melalui teladan Tuhan Yesus sendiri.

Berikut beberapa prinsip bagi seorang pelayan anak dalam mengemban tugas pelayanannya, berdasarkan teladan Yesus yang diambil dari Markus 10:13-16. Baca entri selengkapnya »

Memasuki sebuah gereja saya sangat tertegun. Begitu banyak anak-anak yang juga duduk manis bersama dengan orang tuanya. Sementara tidak jauh dari gedung gereja, segelintir anak sedang bernyanyi riang bersama dengan guru sekolah minggu mereka. Apa yang sedang dilakukan anak-anak ini disini? Baca entri selengkapnya »

Saat ini saya sedang menerawang masa kecil saya. Khususnya waktu masih jadi penghuni kelas sekolah Minggu. Saat saya melihat guru saya mengajar, betapa kagumnya saya saat itu melihat mereka. Begitu baik, manis, dan suka senyum. Wah mereka pasti suci sekali ya …. Baca entri selengkapnya »

 

Sekolah minggu mungkin merupakan organisasi yang paling sibuk saat bulan Desember tiba. Bagaimana tidak, sejak bulan November guru-gurunya sudah mulai rapat sana sini untuk menentukan acara Natal, hadiah-hadiah, pementasan, kostum, dana, dan lain-lain.

Baca entri selengkapnya »

Jika ditanya salah satu hal yang membuat saya begitu senang di tahun 2007 ini, salah satunya adalah KKR Anak Sekolah Minggu yang diselenggarakan di gereja saya bulan April yang lalu.

Acara itu bermula dari kerinduan saya melihat anak-anak memiliki pengalaman rohani dalam sebuah kebaktian, dimana saat itu dapat menjadi waktu bagi anak untuk berpikir mengenai keselamatannya. Jika mereka saat itu juga dapat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, itu akan membawa sukacita yang tak terhingga bagi saya.

Baca entri selengkapnya »

KUPU-KUPU

Kupu-kupu adalah salah satu hewan dari sekian banyak serangga yang
dapat terbang. Dia memiliki keindahan pada warnanya. Asal mula kupu-
kupu adalah dari telur. Kemudian menetas menjadi ulat bulu.

Jika ulat bulu sudah cukup besar dan gemuk, ia menempelkan diri pada
tanaman atau pohon. Kemudian berubah menjadi kepompong yang sering
kita lihat di pohon-pohon. Kepompong tersebut kemudian berubah menjadi
seekor kupu-kupu. Baca entri selengkapnya »

Bahan bacaan: Keluaran 2:1-10

Orang Israel pernah tinggal di tanah Mesir. Mereka menduduki daerah
yang bernama Tanah Gosyen. Semakin hari orang Israel bertambah banyak.
Orang Mesir ketakutan kekuatan orang Israel. Mereka takut kalau-kalau
bangsa Israel akan menguasai Mesir. Akhirnya keluarlah peraturan. Bayi
laki-laki orang Israel yang baru lahir harus dibunuh atau dibuang ke
sungai Nil!

Pak Amram adalah orang Israel. Isterinya baru saja melahirkan bayi
laki-laki. Mereka takut bayi mereka diambil tentara Mesir dan dibuang
ke Sungai Nil. Mereka lalu menaruh bayi mereka di pinggir Sungai Nil,
tempat permaisuri Mesir biasanya mandi. Bayi itu dimasukkan dalam
keranjang dan dijaga kakak perempuannya yang sembunyi di balik pohon.
Tuhan menolong bayi itu. Permasuri raja Mesir mendengarnya menangis.
Lalu bayi itu diambilnya. Dia mengatakan mau mengangkat anak itu
menjadi anaknya. Tetapi dia bingung, siapa yang akan menyusui bayi
itu.

Tiba-tiba kakak perempuan bayi itu keluar dari tempat sembunyinya. Dia
mengatakan ada ibu yang bisa menyusui bayi itu. Permaisuri pun senang.
Akhirnya bayi itu kembali lagi kepada ibunya. Mereka tidak takut lagi
bayi mereka akan dibunuh. Bayi itu sekarang menjadi anak raja. Ibunya
bahagia sekali. Oleh permaisuri bayi itu diberi nama, “MUSA”.

“Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan,
ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.” (Mazmur 68-21)

Bahan Bacaan: 1Raja-raja 3:16-28

Suatu hari dua orang wanita datang ke hadapan Raja Salomo. Mereka
berebut anak. Keduanya sama-sama baru melahirkan. Mereka tinggal
bersama. Salah satu ibu karena tidur nyenyak tidak sadar menindih
bayinya. Bayinya akhirnya meninggal. Ibu itu lalu menukarkan bayinya.
Yang sudah mati ditukar dengan yang masih hidup. Saat ibu bayi yang
masih hidup bangun, dia kaget. Kenapa anakya mati? Lalu dia sadar itu
bukan bayinya.

Waktu dia melihat bayinya digendong temannya, dia marah. “Itu bayiku,
bayimu sudah mati. Kamu menukarnya dengan bayiku.” Ibu yang palsu
berkata, “Ini bayiku! Bayimu yang mati itu!” Ibu-ibu itu lalu ribut.
Tetangga-tetangganya melerai. Mereka mengusulkan agar perkara itu di
serahkan kepada Raja Salomo.

Kedua ibu itu pergi ke Istana. Mereka bertemu dengan raja Salomo. Di
depan raja mereka terus ribut. Ibu yang palsu maupun yang asli. Mereka
sama-sama menginginkan bayi yang masih hidup itu.

“DIAM!” tegur Raja Salomo. Dia sudah tidak tahan mendengar keributan.
Dia minta pengawalnya mengambil pedang. “Taruh bayi itu di depanku.
Daripada terus bertengkar, bayi ini kubagi dua saja!”

Ibu yang palsu berkata sambil tersenyum, “Iya, bagi dua saja bayinya
biar adil!”

Tetapi ibu yang asli menangis dengan keras sambil berkata, “Jangggann
… Tuanku Raja, jangan bunuh anakku. Biarlah wanita itu mengambil
anakku. Aku tidak mau anakku, Tuanku!”

Raja lalu berkata, “Ambil bayi itu, serahkan ke ibunya yang sedang
menangis itu. Dialah ibunya!” Lalu ibu yang palsu dihukum dan
dimasukkan ke penjara.

Raja Salomo tahu ibu yang asli tidak mungkin ingin melihat anaknya
dibunuh. Raja Salomo tidak benar-benar ingin membunuh anak itu. Hanya
untuk menguji. Raja Salomo sungguh raja yang penuh hikmat. Karena dia
selalu menyenangkan hati Tuhan.

“Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya,
takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan
itulah akal budi.” (Ayub 28:28) Baca entri selengkapnya »

September 2020
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930